Sinopsis Arang and The Magistrate episode 4 part 1

 Sinopsis Arang and The Magistrate episode 4 part 1



Eun Oh berlarian ke setiap tempat untuk mencari Arang. Tempat yang memiliki kemungkinan untuk menemukan kembali Arang adalah di rumah Shaman Bang Wool. Tapi saat membuka pintu rumah Bang Wool, Eun Oh engga menemukan apapun, kecuali kesunyian. Eun Oh bergumam khawatir "Dimana kau saat ini, amnesia?"
 Engga lama berselang, Bang Wool berlarian dengan menangis dari arah yang berlawanan. Ia tergesa-gesa untuk mencapai tempat pemujaan dewa yang telah ia persiapkan. Melihat kedatangan Bang Wool, Eun Oh langsung menghampirinya. Bang Wool mengucapkan beberapa mantera dengan bersungguh-sungguh berharap para dewa memaafkannya atas apa yang telah ia perbuat bersama Arang, yaitu mencoba mencelakakan Moo Young-Raja dari pengumpul arwah.


Bang Wool terlalu serius membacakan mantera seraya menangis ketakutan, sampai-sampai ia engga menyadari kedatangan Eun Oh. Eun Oh memanggil Bang Wool, dan panggilan itu benar-benar membuat Bang Wool terkejut setengah mati. 



Engga ada yang bisa dilakukannya selain mengatakan hal yang sebenarnya mengenai Arang, karena Eun Oh memang benar-benar kehilangannya. Bang Wool menceritakan segalanya, mengenai Arang yang mencoba untuk menemui Kaisar Langit dengan mengorbankan dirinya untuk mencelakakan Moo Young. Setelah menceritakan semua yang ia tau, Bang Wool kembali melanjutkan ritualnya, membacakan mantera sederhana berharap maaf dari para dewa. 

Sedangkan di sisi lain, Eun Oh mesti berpikir keras, ada apa dan kenapa Arang melakukan hal seperti itu. Kenapa ia melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri seperti itu? Apa Arang sudah gila?!

Di belahan hutan yang paling dalam, Arang berjalan menyusuri jalan menuju nirwana bersama Moo Young. Arang berjalan tepat di belakang Moo Young, jalan mereka disinari oleh lentera kayangan. Berjalan seperti itu tentu saja mengingatkan Arang saat pertama kali ia menjadi hantu, perbedaannya adalah saat ini Moo Young engga mengikatnya dengan tambang merah dari neraka.


Bosan berjalan di belakang Moo Young, Arang mencoba menyamai langkah dengan Moo Young. Ia menanyakan berbagai hal, mengenai bagaimana Moo Young bisa berakhir menjadi raja pengumpul arwah, apakah Moo Young juga mati mengenaskan seperti dirinya? Apakah sebelum menjadi seorang raja pengumpul arwah seperti ini Moo Young memiliki kehidupan masa lalu sebagai manusia? Tanya Arang dan engga mendapat jawaban apapun dari Moo Young. Moo Young hanya terdiam.


Dan setelah menjabat sebagai raja pengumpul arwah seperti ini, apakah Moo Young bisa mati juga, bukankah berarti itu pertanda bahwa ia memang sudah mati? Tentu saja, Moo Young akan mati, karena engga ada yang abadi di dunia ini, jawab Moo Young..



Lentera itu membawa Moo Young dan Arang ke tepi sebuah sungai. Sungai itu sama sekali engga beriak dan sangat tenang. Dan ternyata tempat itu merupakan batas penghubung antara dunia manusia dan dunia roh. Lentera yang menyinari mereka melebur dan menyatu dengan tanah, hal itu membuat tempat yang mereka injaki bersinar terang, hijau daun berubah menjadi merah kekuning-kuningan dan pohon besar yang tumbuh di sungai itu berubah menjadi kemerahan.

Seperti musim gugur yang anggun, perbatasan dua dunia itu hanya dapat terlihat oleh roh-roh tingkat tinggi seperti Moo Young.


Kali ini, sebuah perahu datang menghampiri, perahu tanpa kendali itu berhenti tepat dihadapan Arang dan Moo Young. Moo Young menaiki perahu dan menyuruh Arang untuk segera menaikinya. Dengan ragu, Arang menaiki perahu, ia duduk dan siap untuk dibawa ke tujuan berikutnya. Moo Young bertanya apakah Arang memiliki keterikatan dengan kehidupan dunia,



"Aku belum mengucapkan selamat tinggal." jawab Arang. Yeap, Arang belum mengucapkan selamat tinggal pada Eun Oh. Aww. That must be heart. Arang juga memperingatkan Moo Young untuk menepati janjinya, menepati janji untuk bertemu dengan Kaisar langit.



Perahu kayangan itu membawa Moo Young dan Arang mengarungi sungai tenang yang berlumut. Jejak lentera menghilang seketika bersamaan dengan perginya perahu yang membawa Arang dan Moo Young. Arang mencoba menengok kembali ke belakang, ia memastikan diri bahwa keputusan yang ia ambil ini adalah benar. Ada harapan dan keputusasaan, harapan bahwa semua akan berjalan dengan baik dan keputusasaan bahwa ia mungkin engga akan kembali ke dunia manusia lagi.


Perahu terus berlayar, sungai itu berujung pada laut yang tanpa ujung. Mereka melewati kabut asap, diterjang ombak dan pada akhirnya mereka menuju ke satu poros. Segitiga bermuda (really? is that something? LOL!).


Arang memegang erat-erat pilar perahu dan ia menutup matanya sesegera mungkin setelah melihat bahwa mereka berakhir pada air terjun deras. Itu bukan air terjun biasa tapi sebuah pusat poros yang tekanan airnya tinggi hingga akan menyeret apapun yang ada disekitarnya.


Perahu itu masuk ke pusat poros, dan Arang tenggelam dilautan buih. Ia engga benar-benar tenggelam tapi ia tengah dibersihkan, karena nantinya melalui poros itu juga yang akan membawa Arang masuk ke dimensi lain.



Dimensi gelap dan mencekam. Ups, Moo Young melanggar janjinya. Ia bukan membawa Arang untuk menemui Kaisar Langit, tapi mereka malah berada di dalam sebuah gua. "Kau berbohong!!" jerit Arang ketika melihat makhluk putih bercadar. IS THAT DEMENTOR IN WHITE VERSION?? 



Creepy! Makhluk tanpa wajah dan kaki itu terbang ke arah Arang. Desisannya menggaung ke seluruh ruang di dalam gua, dan hal itu sangat menakutkan. White dementor itu mencium wangi jiwa yang dimiliki Arang dan bersiap jiwa hidup itu akan ia ambil.



Di dunia manusia. Eun Oh masih dalam kecemasannya, pasalnya semua yang diceritakan Bang Wool benar-benar membuatnya bertambah khawatir. Apalagi setelah Bang Wool menceritakan kemungkin-kemungkinan yang akan Arang hadapi nanti di alam baka sana. Setiap manusia selalu memiliki sesuatu yang dapat dimaafkan jadi hukuman mereka dapat sedikit dikurangi.



Tapi entahlah, bagaimana dengan Arang. Arang sudah berani-beraninya menantang malaikat maut. Mungkin ia akan seperti ini. Bang Wool menunjukkan gambar manusia yang tengah terhunus pedang, direbus di dalam air mendidih dan banyak hal creepy lainnya.



Kemungkinan yang disebutkan Bang Wool itu tertera jelas di buku primbon magic miliknya. Jadi engga ada alasan bagi Eun Oh engga mempercayai dirinya, bagaimana bisa buku penuh dengan magic ini berbohong. Lagi pula tanpa kekuatan shaman yang sepenuhnya, seorang shaman tingkat rendah pun akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia engga segan-segan menunjukkan buku itu pada Eun Oh agar Eun Oh mempercayai semua perkataannya.


Dol Swi melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Eun Oh, untuk menjaga mayat arang. Di luar ruangan, Dol Swi menjaga mayat itu, dan seringkali ia melongokan diri untuk melihat keadaan mayat Arang. Ia bahkan menceritakan dirinya sendiri kepada mayat Arang. LOL.



Berselang waktu, beberapa petugas yang diutus oleh Officer Choi datang. Tujuan mereka tentunya untuk mengambil mayat Arang dan membawanya kekediaman Officer Choi. Melihat kedatangan orang-orang itu, Dol Swi panik ia menyiapkan kuda-kuda untuk berkelahi. Terlebih saat Dol Swi mendengar alasan kedatangan para utusan itu, Dol Swi menolak mentah-mentah untuk menyerahkan mayat Arang begitu saja.


Tugas yang diberikan tuannya adalah untuk menjaga jasad Arang, jadi akan sampai bagaimanapun, para utusan itu harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu sebelum mengambil mayat Arang. Alhasil, Dol Swi yang keras kepala harus melindungi dirinya sendiri dari pukulan massa. Dol Swi beberapa kali berhasil menumbangkan dua orang utusan Officer Choi. Namun, jumlah mereka terlalu banyak dan Dol Swi engga bisa menanganinya sendiri.

Sampai pada akhirnya, pertahanan bela diri yang Dol Swi miliki tumbang dan Dol Swi dipukuli oleh para utusan Officer itu. Poor Dol Swi. Dol Swi berusaha melawan hingga ia berhasil berdiri kembali dan meneriakkan bahwa ia engga akan kalah atau mati begitu saja. Para utusan Officer Choi itu menganggap Dol Swi sebagai orang yang kehilangan akal sehat.



Dan cara terakhir untuk mendapatkan mayat Arang adalah dengan membunuh Dol Swi. Salah satu pelayan pribadi Joo Whal yang ikut juga datang ke tempat kediaman hakim, menunjukkan pisau tajamnya. Ia mengisyarakat bahwa kematian Dol Swi ada di tangannya. Utusan itu menghampiri Dol Swi dengan siap menghunuskan pisaunya tepat di bagian jantung Dol Swi. Tapi, untungnya Dol Swi segera menjadikan tumpukan serabut sebagai tamengnya.
Keberuntungan ada dipihak Dol Swi. Untuk kedua kalinya, saat pengawal pribadi Joo Whal mencoba menghunuskan pisau, dari arah belakang, Eun Oh melemparkan sandal miliknya. Dan lemparan Eun Oh itu tepat mengenai sasaran. Asa!


Eun Oh berdiri dengan satu kaki, kaki yang lainnya kehilangan arah dan tujuaaaaaaan. Nananannananaa.. Eun Oh menyuruh trio ahjusshi untuk mengambilkan kembali sepatunya. Dol Swi yang melihat kedatangan Eun Oh, tersenyum senang. Hidupnya terselamatkan kali ini.



Segera setelah melihat utusan dari Officer Choi membawa pisau, Eun Oh menghampirinya. Eun Oh merupakan hakim yang memiliki kedudukan di Miryang. Dan Ayah Eun Oh juga memiliki kendali yang besar dalam perkembangan Miryang, ucap Eun Oh pada utusan Officer Choi tersebut. Mencoba untuk menakuti utusan itu dengan kedudukan dan jabatan ayah Eun Oh yang Eun Oh rekayasa sendiri. Pfft.



Mendengar hal tersebut, para utusan tersebut engga berani berbuat apa-apa, kecuali memundurkan langkah dan memberikan salam penghormatan sebelum mereka pergi. Seseorang yang memiliki jabatan dan berpengaruh memang selalu berhasil membuat mereka tunduk, terlebih kalau yang berkuasa adalah uang. Seperti yang terjadi di Miryang, uang dan kekuasaan menguasai segala hal.


Seperginya para utusan itu, Dol Swi langsung memeluk Eun Oh dengan erat. Haha.. Eun Oh menyambut pelukan itu dan mengatakan kalau Dol Swi sudah melakukan yang terbaik, "Dol Swi-yah, kau melakukan dengan sangat baik. Kau melakukannya dengan sangat baik." puji Eun Oh pada Dol Swi yang masih terus menangis karena kejadian barusan hampir saja menghilangkan nyawanya.



Utusan itu kembali menghadap kepada Officer Choi. Ia engga membawa hasil apapun, misi yang gagal malah membuat pelipisnya berdarah karena Officer Choi marah dan melemparkan tempat tinta ke arahnya. Aww. Must be hurt.


Utusan itu keluar dari ruangan Officer Choi dan berpapasan jalan dengan Joo Whal. Melihat kegagalan ayahnya dalam mengambil kembali mayat Arang malah membuat Joo Whal tersenyum sinis.



Eun Oh kehilangan Arang yang membuatnya kehilangan arah dan tujuan, apa yang seharusnya ia lakukan sekarang dengan jasad Arang seperti ini? Haruskah ia mengambil keputusan untuk menguburkannya atau menunggu sampai Arang datang kembali. Akankah Arang datang kembali?


Engga ada yang pasti, dan Eun Oh harus membuat keputusan saat itu juga. Ia akhirnya mengambil keputusan terakhir yaitu menguburkan jasad Arang. Pagi harinya, Eun Oh mengumpulkan trio Ahjusshi dan mengumumkan bahwa jasad Arang akan dikuburkan tanpa terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap kasusnya. Parah Ahjusshi terkejut dengan keputusan tersebut.


Eun Oh ingin semuanya bersih, tentang reputasi dan diri Arang di mata masyarakat, untuk itu Eun Oh menyuruh trio ahjusshi untuk membuat pengumuman kepada warga Miryang mengenai jasad Arang yang akan segera dikuburkan dan juga agar warga Miryang engga lagi membicarakan permasalahan Arang, terlebih bergosip mengenai hal-hal buruk mengenai Lee Seo Rim.


Pengumuman pun di sebarkan. Beberapa penduduk Miryang masih saja mengatakan hal-hal aneh. Mengenai jasad Lee Seo Rim yang setelah 3 tahun baru diketemukan dengan tubuh yang masih utuh tanpa membusuk. Hal itu benar-benar aneh dan membuat mereka berpikiran hal-hal buruk.

Saat beberapa pria tengah membicarakan Lee Seo Rim seperti itu, Joo Whal tanpa sengaja berdiri tepat dibelakang para penggosip tersebut. Melihat kedatangan Joo Whal semua orang membubarkan diri, takut akan kekuasaan Joo Whal.

Joo Whal sangat pandai menyembunyikan perasaannya, raut wajah lega sedikit tersirat. Mayat Arang yang dikuburkan akan menuntaskan permasalahan. Tentu saja, engga ada lagi hal yang perlu diselidiki, right? Dan keluarga Officer Choi akan hidup dengan tenang tanpa adanya tekanan mengenai perbuatan kotor mereka yang mungkin memiliki kaitan terhadap terbunuhnya Lee Seo Rim.



Salah satu trio Ahjusshi menemui Officer Choi dan mengatakan mengenai rencana Hakim Kim untuk menguburkan jasad Lee Seo Rim tanpa mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Meski Officer Choi merasa marah akibat kegagalan dirinya dalam mengambil kembali jasad Lee Seo Rim, tapi keputusan Hakim Kim kali ini benar-benar tepat, Officer Choi ada dipihaknya, membiarkan Lee Seo Rim dikuburkan begitu saja.


Eun Oh duduk di sebuah ruangan yang sudah disiapkan untuk digunakan sebagai ruang upacara pemakaman. Mayat Arang sudah ada di dalam peti, dan Eun Oh bergumam mengenai kepergian Arang yang sudah lebih dari 2 hari, engga ada tanda-tanda ia akan kembali. Ini mungkin menjadi keputusan dan takdir yang terbaik bagi Arang karena ia engga bertemu dengan Joo Whal.


Sikap Joo Whal yang meremehkan kematian Arang, tentu akan menambah luka bagi Arang, beruntung sekali, pertemuan antara Joo Whal dan Arang selalu gagal. Eun Oh masih memikirkan Arang, bagaimana ia di dunia sana.


Pagi harinya, beberapa petugas pemerintahan menyiapkan keranda.. Hari itu juga, mayat Arang dikebumikan. Tapi malangnya, engga ada seorang pun pelayat yang datang, hanya pelayan setia dari Arang yang mengucapkan dan melakukan ritual penghormatan terakhir bagi Arang. 


Dol Swi mengeluh mengenai sedikitnya para warga yang datang untuk melayat. Bukan salah para warga Miryang juga, tetapi memang kasus Arang seperti ini membuat mereka ketakutan. Bagaimana bisa mayat yang sudah berusia lebih dari 3 tahun, engga membusuk dan masih tetap utuh layaknya mayat yang baru saja meninggal satu hari yang lalu.


Setelah mayat Arang dikebumikan, maka Eun Oh membuat keputusan untuk pergi dari Miryang juga. Ia akan menanggalkan posisi hakim palsunya dan kembali mencari keberadaan sang ibu. Untuk itu, Dol Swi mempersiapkan diri, mengepak semau peralatan Eun Oh karena mereka akan bergegas pergi dari Miryang.


Tapi, seorang wanita tengah berjalan menuju kediaman hakim. Langkahnya sangat bersemangat dengan hanbok merah mudah dan senyuman manis, wanita itu menghampiri Eun Oh yang baru saja keluar dari ruangan. Guess who?


Wanita cantik itu tersenyum tepat dihadapan Eun Oh, menatap Eun Oh dalam-dalam dan hal itu membuat Eun Oh terdiam seribu bahasa. Wanita itu adalah Arang!
Bersambung Sinopsis Arang and The Magistrate episode 4 part 2